5 Tips dari ulama dalam mendidik anak di era digital

Tag Meta Blogger


Assalamu'alaikum wr. wb.

Anak merupakan anugerah terindah yang kehadirannya selalu dinanti-nantikan oleh setiap pasangan keluarga. Pada dasarnya yang menjadi pelengkap pada moment-moment keluarga adalah senyum, canda, tangis dan tawa seorang anak. "Buah jatuh tak jauh dari pohon" itulah peribahasa yang umum  digunakan dalam menggambarkan karakter pada seorang anak. Bagaimana orang tua mendidiknya sedari kecil, maka seperti itulah karakter si anak kelak.

Banyak orang tua yang mampu memberikan pendidikan yang tinggi sampai dengan Doctor. Tetapi, karakter mereka kadang tidak sesuai dengan title yang mereka dapatkan. Justru mereka yang dari kalangan kurang mampu dengan pendidikan yang tidak sampe ke bangku kuliah ataupun hanya menimba ilmu di pondok pesantren memiliki karakter yang lebih baik.

Dari latarbelakang tersebut, penulis ingin membagikan sedikit wawasan dalam mendidik anak. Disini, penulis hanya menguraikan setiap nasehat yang disampaikan oleh K.H. Bahaudin Nursalim atau yang lebih dikenal dengan panggilan (Gus Baha) serta dari Habib Qurays Shihab. yang kemudian penulis jadikan sebuah artikel dengan judul "5 tips mendidik anak sesuai ajaran islam di era digital".

Dari apa yang pernah penulis dengar tentang masa kecilnya cucu Nabi Muhammad SAW yaitu Sayyid Hasan dan Sayyid Husein yang pada masa itu masih kanak - kanak pernah menaiki tubuh Nabi SAW ketika beliau sedang melaksanakan sholat berjamaah bahkan mereka pernah mainan anjing didalam rumah. Tetapi Nabi Muhammad SAW tidak lantas memarahi mereka. 
Itu sedikit cerita dari penulis, yang mana penulis mengetahuinya ketika mengaji. Kemudian dibawah ini adalah nasehat yang di sampaikan oleh Gus Baha pada saat kunjungannya ke rumah Habib Qurays Shihab.

Ada cerita, orang tua ini terlalu keras kepada anak sehingga dirumahnya tidak ada televisi, motor, dll. Singkat cerita anak ini tau televisi dari temennya, diajarin naik motor dari temennya , tau hp juga dari temennya. Yang jadi masalah adalah, temen dari anak ini yang mengajari naik motor, nonton televisi, belajar internet tidak menjalankan sholat dan berpuasa. Sehingga anak ini lebih terpengaruh dengan gaya hidup temennya. Orang tua si anak ini mengira tidak adanya televisi, motor, internet dll akan mendidik anak lebih baik. Tapi jangan lupa bahwa manusia itu adalah "al insan abdul ihsan" yang artinya manusia itu budaknya kebaikan. Sehingga ketika anak tersebut merasa dekat dengan orang yang tidak sholeh, dia akan meniru temennya ini yang tidak sholeh dan melihat orang tua sebagai orang yang tidak simpatik kepada anak karena sering melarang.

Televisi, internet dll yang serba digital itu memang banyak madhorotnya, tetapi harus diingat bahwa kalau sampai anak ini nonton televisi dirumah tetangganya sehingga mengganggu mereka apalagi tetangga tersebut tidak sholat dan puasa, itu akan sangat bahaya. Dan patut di ingat ketika wali berdo'a "jangan jadikan kami dikuasai oleh orang yang tidak takut engkau ya Allah SWT".

Itulah sedikit cerita bagaimana cara mendidik anak yang baik dan bahayanya terlalu keras kepada mereka.

Dan harus diingat bahwa mendidik anak yang baik adalah dengan cara menjadi contoh bagi mereka, berikan penghormatan yang baik karena mereka adalah penerus sujud kita kepada Allah SWT. Menurut Habib Qurays Shihab, dalam hadits dijelaskan bahwa Allah SWT merahmati seseorang yang membantu anaknya untuk jadi baik. Caranya bagaimana?

  1. Jangan memaki anak.
  2. Jangan memberi mereka beban yang berat.
  3. Tegurlah dengan cara yang baik.
  4. Perlihatkanlah senyum kepada mereka.
  5. Bebaskan mereka dalam memilih hidupnya, tetapi berikan arahan yang baik.

Jadi akan membuat hubungan yang baik antara anak dengan orang tua, sehingga ketika anak ada masalah ataupun mau curhat kesehariannya yeng mereka tuju adalah orang tuanya. Kalau anak laki - laki ke bapaknya kalau anak perempuan ke ibunya bukan malah curhat ke temennya.

Adanya kesalahan dalam penulisan pastinya dari penulis. Kritik serta saran sangat penulis harapkan dari pembaca dalam membangun blog ini.

Sekian saya akhiri,
Da'wahum fiha subhannakallahumma watahiyatuhum fiha salam. Wa ahiru da'wahum anilhamdulillahirobbil 'aalamin.
Taqobalallah mina wamingkum taqobal ya kariim.

Wasalamualaikum wr. wb.

Subscribe to receive free email updates: